Mendengarkan untuk Mengerti

Apr 12, 2013   //   by harysetyowibowo   //   Article  //  No Comments

“…dahulukan mengerti, baru dimengerti…”

-Stephen R. Covey-

 

 

PENGERTIAN sering dijadikan sebagai terdakwa atas berbagai permasalahan . . .

“Ini terjadi karena KAMU NGGAK NGERTI…”

“Kalau saja Ia bersedia mengerti …”

 

Sebaliknya, PENGERTIAN, juga menjadi perekat hubungan dan kunci keberhasilan …

“Saya memilihnya karena ia orangnya pengertian …”

“Kita berhasil karena kita mengerti betul apa kemauan mereka…”

MENGERTI, mudah diucapkan, namun perlu kesungguhan untuk melakukannya. MENGERTI merupakan keterampilan yang menentukan kualitas percakapan dan meningkatkan jalinan hubungan baik. Mengapa mengerti menjadi sulit dilakukan?

Dalam catatan Saya, berikut beberapa hambatan yang membuat seseorang gagal mengerti :

  • Halangan Fisik. Keterbatasan alat indra bisa menjadi penghambat komunikasi. Selain itu, kondisi lingkungan juga bisa menjadi penghambat, misalnya : telepon yang terus berdering, jarak yang terlalu jauh atau adanya barang yang menutupi satu sama lain.
  • Sibuk Sendiri. Sibuk dengan pemikiran dan keinginan pribadi, sehingga kurang peduli dengan aspirasi orang lain. Banyak sekali gagasan di pikiran, sehingga sulit untuk memahami. Memiliki sesuatu yang hendak dikatakan dan ingin segera menyela pembicaraan.
  • Prasangka. Menyuburkan asumsi sebelum maupun selama komunikasi berlangsung. Prasangka karena perbedaan (dalam hal agama, budaya, ras, posisi, dll.)
  • Kebiasaan. Kita semua terperangkap dalam satu jaring kebiasaan. Kebiasaan mempengaruhi setiap pemikiran, perasaan, dan tindakan. Kebiasaan membuat orang juga tidak menerima hal yang didapatkannya dari komunikasinya karena dia telah terbiasa berpikir tentang suatu hal dengan cara tertentu.
  • Defensif. Orang yang mendengarkan dengan defensif bisa melihat komentar netral menjadi sebuah serangan personal tanpa benar-benar memahami hal yang dinyatakan oleh orang yang berbicara.
  • Evaluasi Dini. Tegesa-gesa mengambil kesimpulan sebelum mitra komuniiasi menyelesaikan kalimatnya. Terburu-buru, menilai apa yang sedang disampaikan mitra komunikasi. Lebih parah lagi, menghakimi atau menyalahkannya.

Kabar baiknya, kemampuan mengerti bisa dikembangkan dan dipelajari. Modalnya adalah kesediaan untuk mendengarkan. Imbalannya adalah hubungan baik dengan orang-orang yang penting bagi kita, keberhasilan menyelesaikan pekerjaan dan kebahagiaan.

Merujuk pendapat Wolfin & Coakley (1996) “… listening is the process of receiving, attending to, and assigning meaning to aural and visual stimuli …”. Saya merekomendasikan tiga elemen dalam mendengarkan untuk mengerti, sebagai berikut :

  • TERima, menangkap pesan. Kemauan dan kerelaan untuk mendengarkan orang lain sehingga memudahkan telinga kita mendengar, mata kita memperhatikan, pikiran kita memaknakan dengan lebih akurat apa yang dimaksud mitra bicara, emosi kita merasakan apa yang dirasakan mitra bicara.
  • SIMpulkan, memaknakan pesan. Memahami pikiran, perasaan dan kebutuhan mitra bicara yang melatari pernyataannya. Kita berusaha mengartikan “apa yang terdengar” dan “apa yang terlihat” dari mitra bicara. Memaknakan pesan non verbal, kadang lebih menantang daripada pesan verbal. Lebih menantang lagi, tak jarang kita menemukan ketidakselarasan antara pesan verbal dan non verbal.
  • PANtulkan, menanggapi pesan. Memberikan tanggapan terhadap pesan yang kita pahami. Memastikan akurasi pemahaman dan menyatakan pengertian. Aktivitas ini bermanfaat, terutama, ketika : Anda ingin memastikan pemahaman, Mitra bicara ingin dimengerti. Anda ingin mengelola pembicaraan. Tanggapan dapat berupa pernyataan, pertanyaan atau gabungan dari keduanya.

Perlu diingat :

“saling mengerti dimulai dari KESEDIAAN untuk mengerti dan memudahkan dimengerti, bukan tuntutan pada orang lain agar dimengerti”.

Semoga bermanfaat. Selamat menjalin saling pengertian.

Jabat Erat,

Hary Setyowibowo

Leave a comment


7 + = thirteen

Login Status

You are not currently logged in.

We tweet, we tweet...

  • ,