Pergilah sekarang, atau terlambat

Mar 30, 2013   //   by bangjeki   //   Article  //  No Comments

Seseorang pernah bertanya tentang bagaimana cara keluar dari hubungan yang disfungsional bahkan destruktif menghancurkan.
Pengalamannya saat ini membuatnya membutuhkan langkah nyata tentang bagaimana meninggalkan hubungan seperti itu.
Jawabku padanya, semampu yang pernah kupelajari, adalah untuk awalnya mengevaluasi relasimu selama ini, apakah konstruktif atau destruktif, fungsional atau disfungsional.

Tolok ukurnya beragam, tak hanya sekedar masih ada atau tidaknya rasa cinta dan kemesraan, lebih banyak bahagia atau sedih.

Perhatikanlah, saat dalam relasimu ada ketidaksetiaan / perselingkuhan, kekerasan (verbal-emosional-fisik), berbohong, perilaku merusak diri, itu pastilah destruktif!

Saat dalam relasimu ada ketidaksetaraan, minimnya kesempatan untuk bernegosiasi, kepasrahan menerima saja tanpa bisa memilih, itu destruktif.

Saat dalam relasimu ada ketakutan untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan kebutuhan karena akan berakibat buruk, itu disfungsional.

Saat dalam relasimu salah satu pihak bebas tanpa terkontrol dapat mengungkapkan emosi negatifnya dan mengancam pihak lainnya, itu destruktif.

Saat dalam relasi kamu tak lagi dapat mengejar cita-citamu, tujuan hidupmu, kesenanganmu dan harus mengalah terus-menerus, itu disfungsional.

Saat dalam relasimu salah satu pihak tergantung pada pihak satunya dalam hal finansial, emosional, maupun perilaku, ya itu disfungsional.

Jika kamu mengenali dan meyakini bahwa relasimu difungsional dan destruktif, lakukan langkah berikutnya: tanya pd dirimu “maukah aku seumur hidup begini?” Mungkin secara logis semua orang akan menjawab “Tidak, saya akan pergi!” Tapi faktanya banyak yang tetap bertahan dalam relasi destruktifnya.

Banyak yang ingin pergi tapi tak mau, dapat pergi tapi tak mampu, tetap tinggal dan berharap suatu saat (dengan banyak doa dan usaha) semua akan berubah. Keadaan tak berdaya ini disebut learned helplessness, yaitu ketergantungan emosional berat yang melumpuhkan kemampuan bertindak. Atau mungkin mereka mengalami angel syndrome, yaitu keyakinan kalau kamu dengan segala usaha dan kebaikanmu akan dapat mengubahnya jadi orang lebih baik. Saya percaya jika perilaku destruktif dilakukan sekali, itu khilaf; dua kali, itu kebodohan; tiga kali, itu kepribadian. Yakinkah bisa mengubahnya?

Awalnya mungkin kamu takut dan ragu untuk melangkah pergi, karena dia mengancammu atau membujukmu, bahkan mengiba belas kasihanmu. Akibat ragu dan sayang, kamu akan memaafkan dia, menerima dia, sambil mengancam “kalau sekali lagi, aku pergi”. Lalu biasanya apa yg terjadi? Umumnya perilaku destruktif itu terulang lagi dan lagi dan lagi. Sampai kamu muak dan lelah dan ingin berhenti. Saran saya: PERGILAH!! Katakan padanya kamu sudah lelah dan memutuskan untuk berhenti. Katakan jelas dan tegas. Putuskan kontak, jangan balas sms/bbm/telponnya, hindari perjumpaan dengannya. Pada keadaan seperti ini, menghindar harus dilakukan. Ceritakan pada orang-orang yang kamu percaya, karena merekalah penghibur dan pengingatmu. Kamu akan mengalami rasa sakit yang besar, tapi perlu untuk kamu alami.

Apa dia begitu saja akan menerimanya? Biasanya tidak. Ia akan marah, memohon, bahkan beberapa mengancam menyakiti diri sendiri untuk bisa kembali. Saran saya: BERGEMINGLAH. Kuatkan hatimu dan tetaplah menjauh. Kasihan dan tak tega simpan dulu dalam-dalam, demi kebaikanmu. Menangislah sepuasnya, curhatlah semampunya, memakilah sampai lega. Suatu saat kamu akan sampai di titik jenuh dan beranjak lebih baik. Sebuah hubungan yang tidak membuatmu jadi pribadi lebih baik, tak layak untuk dijalani.

Leave a comment


nine + 9 =

Login Status

You are not currently logged in.

We tweet, we tweet...

  • ,